Friday, September 29, 2006

Mark Spitz, Manusia tercepat di Dunia


Pada tahun 1972, Olimpiade di Munich, Jerman, dikejutkan oleh rekor peraihan medali emas oleh perenang Amerika keturunan Yahudi, Mark Spitz. Mark meraih 7 medali emas dalam Olimpiade tersebut dan hingga kini, belum ada yang mengalahkan. Kecepatan renangnya pun belum pernah ditumbangkan oleh perenang masa kini.

Menyatu dengan Laut

Mark Spitz adalah sulung dari tiga bersaudara yang lahir pada 10 Februari 1950 di Modesto, Kalifornia, Amerika. Orangtuanya, Lenore dan Arnold Spitz, mengenalkan Mark pada olah raga renang sejak ia baru belajar berjalan.

Saat Mark berusia dua tahun, ayahnya yang bekerja di perusaan baja itu, dipindahkan ke Honolulu, Hawaii. Tempat tinggal mereka yang dekat pantai itu membuat Mark jadi terbiasa berenang di Pantai Waikiki setiap hari. Bahkan ayahnya menuturkan pada TIME terbitan 12 April 1968, bahwa Mark kecil dulu berlari dan berenang di laut seperti orang yang ingin bunuh diri. Ia berenang dan menerjang ombak yang sangat besar dengan berani.

Sayangnya, beberapa tahun kemudian keluarga Spitz kembali ke Kalifornia. Namun, ayah Mark selalu mengajarkannya betapa pentingnya untuk menjadi nomer satu. Maka, tak heran jika di usia 15 tahun, Mark telah berhasil menggondol empat medali emas dalam Meccabiah Games di Tel Aviv dan dianugrahi penghargaan sebagai atlet terbaik. Itulah awal karir cemerlangnya di dunia renang, dan permulaan dari daftar panjangnya memperoleh kemenangan.


Merajai Kolam Olimpiade

Berbagai kemenangan seperti mengalir pada Mark. Bayangkan saja, hingga tahun 1972, Mark berhasil mencetak 23 rekor renang dunia dan 35 rekor baru Amerika. Catatan rekor pertamanya sendiri diciptakan Mark pada Juni 1967, pada kejuaraan renang kecil di Kalifornia. Saat itu dia berenang dalam kelompok 400 meter gaya bebas hanya dalam waktu sekitar 4 menit. Setelah rekornya itu, dia mulai mengikuti berbagai kejuaraan, dan rekor berenangnya pun makin bertambah.

Pada Olimpiade tahun 1968, di Meksiko, Mark berhasil menggondol dua medali emas, satu perak, dan satu perunggu. Sebenarnya, banyak orang yang yakin Mark bisa mencapai prestasi lebih baik dari itu. Sayangnya, serangan flu mendadak membuat Mark tidak bisa berprestasi lebih maksimal.

Saat mengikuti Olimpaide Munich, German, pada tahun 1972, Mark kembali membuat rekor baru, termasuk memecahkan rekornya sendiri. Dalam Olimpiade inilah, Mark berhasil menyabet medali emas terbanyak dalam sejarah dunia olah raga renang. Saat itu dia mendapatkan tujuh medali emas dalam berbagai kelompok renang.

Pensiun Dini


Pada usia 22 tahun atau sesudah mengikuti Olimpiade di Munich, Mark menyatakan mengundurkan dirinya dari dunia olahraga renang yang dicintainya itu. Banyak orang yang menyayangkan, mengapa ia memutuskan untuk berhenti secepat itu. Namun tak pernah ada alasan yang pasti mengenai “pensiun dini”-nya itu.

Setelah mundur dari dunia renang, Mark lalu terjun ke dunia bisnis. Bahkan ia sempat terlibat dalam beberapa pembuatan film layar lebar dan iklan. Nah, saat berusia 41 tahun, tiba-tiba Mark memutuskan kembali ke dunia renang. Kali ini atas tantangan Bud Greenspan, pembuat film besar Amerika. Mark akan dibayar sebanyak satu juta dolar jika berhasil memenangkan kejuaraan renang dalam Olimpiade Barcelona tahun 1992. Keikutsertaan Mark dalam Olimpiade tersebut difilmkan oleh kamera Greenspan. Sayang, Mark gagal dalam tantangan itu. Namun kegagalan itu tak mencoreng rekor gemilangnya dalam dunia renang. Ia tetap mendapat julukan perenang tercepat di dunia.**Surien
Dimuat di Gober Nostalgia, terbitan Disney, Gramedia Majalah

foto : answer.com

Poppy Dharsono

Dalam dunia fashion Indonesia, Poppy Dharsono adalah sosok besar. Setelah 25 tahun berkarya di dunia mode, saat ini industri mode yang dikelolanya cukup sukses dan kuat. Tapi ternyata, jadi fashion designer atau perancang mode dulu bukan impiannya, lho!

Awalnya, Poppy cilik bercita-cita menjadi seorang dokter. Saat itu yang terbayang, menjadi dokter sungguh luar biasa biasa karena apa yang dikatakan oleh dokter pasti dipatuhi semua pasiennya!

Setelah lulus SMP, Poppy yang lahir di Garut 8 Juli 1951 ini telah mahir membuat pola dan menjahit baju. Kemampuan ini diperkenalkan ibunya yang kebetulan seorang guru di sebuah sekolah menjahit di Jakarta. Tapi kemampuan ini belum mendorong Poppy untuk kelak terjun ke dunia mode. Malah pikirnya, menjadi fashion designer bukanlah sebuah profesi melainkan hanya pekerjaan sambilan seorang ibu rumah tangga.

Ketika lulus SMA, Poppy memutuskan untuk masuk ke Akademi Sinematografi di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ, sekarang IKJ—red). Alasannya masuk ke lembaga pendidikan ini ternyata sederhana saja.
“Saya takut yang dimapram-dimapram (OSPEK--red) itu. Waktu itu (mapram-red) di IKJ enak dan ringan sekali,” kenangnya geli. Pada masa itu, mapram memang sedang “gencar” dilakukan, bahkan sudah dilakukan di SMA (kini SMU-red).

Menjadi mahasiswi di IKJ membuatnya jadi percaya diri. Sebagian besar staf pengajarnya yang sempat mencicipi dunia pendidikan di luar negeri berhasil menanamkan sistem yang dianggapnya bagus. Diantaranya adalah Umar Kayam, Asrul Sani dan Syumanjaya (alm).
“Mereka memungkinkan kita untuk memiliki imajinasi yang luar biasa,” jelas penggemar warna-warna tanah ini. Ia pun menekuni dunia sinematografi.

Pada 1973, ia memutuskan pergi ke Paris untuk memperdalam pengetahuan sinematografi. Di sana ia berkenalan dengan Ratna Cartier Brensson (yang masih kerabat keluarganya), seorang Indonesia yang menikah dengan fotografer terkenal Henry Cartier Brensson.

“Tante Ratna ini melihat saya punya selera mode yang bagus,” kenang Poppy. Atas saran Ratna C Bresson itulah Poppy kemudian masuk ke sekolah mode ESMOD. Keputusannya untuk “banting setir” ke dunia mode nggak percuma .

Tiga tahun belajar belajar di ESMOD membuat Poppy cukup enjoy dengan dunia yang digelutinya itu. Ia pun jatuh cinta pada dunia mode.

“Paris ternyata memberikan motivasi yang kuat terhadap mode yang nggak pernah saya lihat sebelumnya di Indonesia. Saya melihat sendiri mode itu sebuah industri yang penting sekali bagi sebuah negara. Karena memang setelah makan kan orang butuh sandang,” tuturnya.

Apa yang didapatkannya di Paris itu akhirnya membuatnya mantap di dunia mode. Kesempatan untuk berkarya lebih luas datang mengalir. Peragaan busana pertamanya adalah di Kota Essen dan Dusseldorf, Jerman. Dengan mengangkat batik dan lurik sebagai tema rancangannya, karyanya mengundang kekaguman para hadirin yang melihat peragaan itu.

Perhatiannya terhadap batik tak berhenti hingga kini. Ia menggabungkan batik sebagai kekayaan Indonesia dengan trend fashion dunia. Hasilnya adalah karya-karyanya yang mengagumkan, yang juga membawa nama bangsa dalam mode dunia.
Salah satu kunci kesuksesannya adalah melakukan fokus pada apa saja yang dilakukan. Ia memilih tetap berkarya dan bergerak dalam bidang mode di Indonesia. Salah satu yang telah dilakukan untuk menghidupkan dunia dan industri mode di Indonesia adalah mendirikan APPMI (Asosiasi Pengusaha & Perancang Mode Indonesia) dan juga sebuah sekolah mode bertaraf international di Jakarta. Ia ingin banyak Poppy – Poppy lain yang muncul mengikuti suksesnya.**surien**

Dimuat di for GIRLS terbitan Diseny, Gramedia Majalah

Taman Nasional Gunung Halimun

Taman Nasional Gunung Halimun nyaris selalu berselubung kabut. Kondisi alam yang berbukit membuat daerah ini menjadi pilihan tepat untuk hiking dan camping.

Dikeliling Kabut

Kabut memang selalu menutupi Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) yang terletak 100 km barat daya Jakarta, atau tepatnya di bawah wilayah Kabupaten Bogor dan Sukabumi (Jawa Barat), serta Lebak (Banten). TNGH selalu berkabut karena lokasinya yang berada di dataran cukup tinggi. Dengan luas sekitar 30.000 hektar, TNGH yang diresmikan pada tahun 1992 ini memiliki curah hujan rata-rata sekitar 4000-5000 mm/tahun dan kelembaban sebesar 80%. Suhu udara minimum kelembabannya adalah 21°c, minimal suhu 12°c dan maksimum suhu 33°c.

Tapi ternyata, di balik kabut tersebut kawasan ini merupakan lokasi indah dan menantang orang untuk melakukan kemah wisata di sana. Kemah wisata? Ya, karena selain sebagai lokasi berkemah yang menantang, tempat ini juga punya pemandangan yang indah.

Kawasan Kemah Wisata

Di kawasan berbukit ini ada tujuh gunung yang mengelilingi Halimun. Yaitu, Gunung Sanggabuana, Kencana, Pareang, Botol, Halimun Selatan, Pananjoan, dan Gunung Kendeng. Di daerah yang juga merupakan kawasan hutan alam mini ini juga mengalir beberapa sungai yang tak pernah kering. Yaitu sungai Ciberang, Cidurian, Ciujung, Cisadane, dan Cimandur. Air dari sungai-sungai inilah yang ,mengalir ke berbagai penjuru dan memenuhi kebutuhan banyak orang. Selain itu juga ada beberapa air terjun. Di antaranya air terjun Cimantaja dan Cipamulaan yang berada di sekitar kawasan Cikiray. Ada juga air terjun Citangkolo dan Ciraksamala di Merkaja, dan beberapa lainnya. Wah..wah… pemandangannya indah sekali

Yang menarik, pada waktu-waktu tertentu kita bisa melihat Owa Jawa (jenis primata yang populasinya termasuk terbesar di pulau TNGH) sering berkeliaran di kawasan pemukiman atau area perkemahan. Bahkan mungkin juga beberapa satwa liar dan langka lainnya yang juga dilindungi TNGH ini. Misalnya saja, Landak, Trenggiling, Kucing hutan, Macan tutul, dan Elang Jawa.

Area Perkemahan

Area perkemahan yang asyik untuk dicoba di kawasan Gunung Halimun adalah Desa Citalahap. Selain hutannya masih alami, ada sungai kecil yang harus dilintasi sebelum sampai ke lokasi perkemahan. Ada juga air terjun Cikudapaeh .

Di desa ini terdapat juga wisma tamu yang dikelola oleh masyarakat setempat dan disewakan untuk kepentingan umum. Di belakang wisma inilah terletah camping ground atau area perkemahan.

Canopy Trail

Dari Citalahap bisa melanjutkan hiking antara lain ke desa Cikatii. Di sana kita bisa melintasi canopy trail atau lintasan yang menghubungkan 3 buah pohon setinggi kurang lebih 30 meter yang panjangnya sekitar 100 meter dan lebar sekitar 60 cm. Canopy trail ini terbuat dari besi yang kokoh. Meski begitu, saat berjalan di atasnya, canopy trail ini akan bergoyang dan bikin jantung berdebar kencang karena seakan goyangannya membuat kita hendak jatuh.

Dari canopy trail ini kita bisa mengamati aneka satwa liar. Misalnya saja, aneka unggas langka, aneka jenis monyet, dan jika beruntung kita bisa melihat macan tutul atau macan kumbang.Tapi, untuk mengamati mereka, butuh kesabaran tinggi. Karena mereka biasanya akan menampakkan diri jika suasana relatif sepi. Kadang butuh waktu berjam-jam bahkan berhari-hari untuk bisa melihat jenis-jenis satwa tertentu.

Untuk mencapai canopy trail ini, kita harus menaiki tangga yang terbuat dari besi. Bentuk tangga ini tidak seperti tangga biasa lurus menjulang, tapi berbentuk zigzag setinggi 30 meter. Nah, buat kalian yang takut ketinggian, lebih baik nggak mencoba tangga dan canopy trail ini, deh…

Nah, kini siapa yang mau mencoba berkemah wisata di TNGH? **Surien

Dimuat di Gober Nostalgia, terbitdan Disney, Gramedia