Tuesday, October 03, 2006

Berburu Jejak Bahariwan Dunia dengan Koleksi Replika Kapal


Tertarik akan riwayat kebesaran Bahariwan Cina Laksamana Ceng Ho, yang hidup sekitar abad 14 – 15 SM, Profesor DR. H. M. Hembing Wijayakusuma kemudian membuat sejumlah replika kapal-kapal Laksamana Cheng Ho.

Mengenang Tokoh Favorit

Selain dikenal sebagai laksamana perang handal dari Cina, Laksamana Kapal Cheng Ho juga dikenal sebagai pimpinan ekspedisi besar. Ia memimpin sekitar 27 ribu anak buah, untuk mengunjungi 38 negara di dunia dengan menggunakan 308 kapal. Salah satu tempat yang disinggahi dalam lawatannya itu adalah Indonesia. Ekspedisi tersebut memakan waktu sekitar 28 tahun. Wuih, hebat, ya…!

Di Indonesia, Laksamana Cheng Ho yang dilahirkan pada tahun 1371 dengan nama asli Ma Ho ini, diperkirakan antara lain berlabuh di daerah Muara Jati, atau di sekitar Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon. Misi tim ekspedisi tersebut adalah menjalin hubungan perdamaian dua arah dengan negara lain, pembaharuan dan penyebaran agama, dengan melakukan perdagangan. Bahkan, saat berada di Cirebon, Laksamana Cheng Ho juga sempat membangun mercusuar.

Sejarah tersebut menunjukkan, ternyata negara kita sudah punya hubungan baik dengan Cina sejak lama. Bagi Prof. Hembing, apa yang dilakukan Laksamana Cheng Ho selama di Nusantara, patut diteladani.

Miniatur Kapal : Simbol Sejarah

Untuk mengenang perjalanan Laksamana Cheng Ho, Prof. Hembing sengaja membuat replika kapal-kapal yang digunakan Laksamana Cheng Ho dalam lawatannya ke Indonesia.

“Miniatur kapal-kapal Cheng Ho merupakan simbol sejarah yang telah ada, yang menyimpan berbagai kisah, dan menjadi peringatan untuk kita, untuk tetap memelihara dan mengambil hikmahnya,” jelas Prof. Hembing.

Saat ini, ia telah memiliki 10 buah miniatur kapal. Kapal-kapal tersebut dibuat oleh tenaga yang memiliki kemampuan memadai untuk membuat miniatur kapal. Satu diantara miniatur kapal yang dimilikinya adalah jenis kapal induk. Pembuatan miniatur kapal tersebut memang tidak sembarangan.

Model atau disainnya dibuat berdasarkan referensi dari para pakar yang paham tentang sejarah Laksamana Cheng Ho. Tak hanya pakar dari Indonesia, tapi juga dari Yunan, Quanzhou, Fuzien, Nanjing, Xian, Beijing, dan lain-lain.Karena itu, miniatur kapal yang dibuat baru bisa 10 buah. Selain perlu riset khusus untuk mengetahui disain aslinya, pembuatan miniatur kapal tersebut juga memakan biaya yang tak sedikit. Namun, Prof. Hembing enggan menyebutkan berapa tepatnya biayanya. Yang pasti, Prof. Hembing bertekad kelak bisa membuat replika kapal-kapal lain Cheng Ho.

Perawatan

Sayangnya, miniatur-miniatur kapal tersebut belum memiliki tempat penyimpanan khusus. Rencananya, kapal-kapal tersebut akan digunakan untuk mengisi Museum Cheng Ho, yang diharapkan bisa segera dibangun.

Untuk perawatanmya, Prof. Hembing mempercayakannya pada tenaga yang khusus mengurus koleksi tersebut. Sudah tentu, tetap dibawah pengawasan dan petunjuk darinya.Sebagai ahli ramuan jamu tradisional, Prof. Hembing memang tak punya waktu banyak. Selain membuka praktek akupunkur di kediamannya, Jl. KS. Tubun, Jakarta Pusat, beliau juga aktif menjadi pembicara di berbagai acara atau seminar.

Karena itu, ia mengakui, harus berusaha keras meluangkan waktunya untuk bisa menengok koleksi-koleksinya. “Selama ini kami merasa senang, setelah dalam waktu yang lama mencari referensi dari pakar sejarah dan bentuk-bentuk kapal-kapal yang digunakan Laksamana Cheng Ho dalam pelayaran besarnya,” tegas Prof. Hembing tentang perasaannya berhasil mengkoleksi sejumlah miniatur kapal Cheng Ho.Nah, siapa yang mau mengikuti jejak Prof. Hembing jadi kolektor miniatur kapal? **surien*

*Dimuat di Gober Tematis Edisi Kapal, terbitan Gramedia Majalah 2001
Foto : equator.com

No comments: